close

Suku Toraja – Sejarah, Kebudayaan dan Adat Istiadat

Suku Toraja – Jika berbicara tentang Toraja, pastinya akan langsung ingat dengan tradisi pemakaman unik yang sudah mendunia. Sebab, suku Toraja yang mendiami salah satu wilayah Indonesia ini memang kental akan budaya leluhur.

Ada banyak hal menarik yang bisa kamu dapatkan jika membuka ulasan mengenai salah satu suku yang masih kental akan kepercayaan mistisnya tersebut. Tentu saja, kali ini kita juga akan membahasnya.

Kamu pasti akan tertarik tentang sejarah, adat istiadat, kebudayaan, agama hingga masalah upacara adat yang kerap mereka lakukan. Untuk itu, teruslah membaca artikel ini dan obati rasa penasaranmu tentang suku Toraja ini.


Sejarah Suku Toraja

Pada awalnya, sejarah suku yang satu ini masih menganut kepercayaan animisme dan masih tidak berhubungan dengan dunia luar. Asal usul serta keberadaan mereka tetap tersembunyi hingga abad ke 20.

Namun, dengan berjalannya waktu, suku ini semakin terbuka dan dikenali banyak orang. Pada awalnya, suku ini mulai ditemukan semenjak bangsa Belanda masuk di sekitar tahun 1900 an silam.

Kedatangan bangsa Belanda ini rupanya mengubah kepercayaan dan tradisi dari masyarakat di suku tersebut. Mereka mulai membuka diri di sekitar tahun 1970 an.

Bahkan, semenjak itu, kebudayaan suku ini kian dikenal banyak kalangan. Hingga akhirnya menjadi salah satu ikon pariwisata di Indonesia tepatnya tahun 1990 an silam.


Budaya Suku Toraja

Budaya Suku Toraja

Setiap suku bangsa pasti memiliki kebudayaan dan fakta uniknya tersendiri, begitu juga dengan suku Toraja. Untuk lebih jelasnya, kita bahas secara terperinci apa saja yang menarik tentang masyarakat Toraja tersebut.

Ciri Khas

Sebenarnya, jika membicarakan tentang tradisi dan ciri khas masyarakat di suku ini akan ada banyak sekali poin menariknya. Sebab, masyarakat mereka masih memegang teguh beberapa hal yang dilakukan oleh pendahulunya.

Misalnya saja dengan beragam upacara adat yang kerap mereka lakukan hingga beragam jenis kuburan yang menarik minat wisatawan untuk singgah dan berkunjung.

Tidak hanya itu, di tanah toraja ini masih kental dengan masalah mistis serta ilmu gaib yang diyakini oleh setiap penduduknya. Jadi, jangan heran jika masih ditemukan banyak bangunan-bangunan bersejarah di sini.

Rumah Adat

Jika kamu melihat gambar rumah adat Toraja maka kamu akan melihat sebuah keunikan pada bagian atap yang menjulang tinggi. Namun, rumah adat ini tidak dibuat begitu saja, melainkan memiliki filosofi tersendiri.

Rumah adat mereka dinamai sebagai tongkonan. Konon kabarnya, nama ini bermakna tempat duduk yang berasal dari kata tongkon. Dulunya, rumah adat ini digunakan untuk tempat berkumpulnya para bangsawan.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, Tongkonan ini digunakan sebagai rumah adat untuk masyarakat di Toraja. Hanya saja, ada perbedaan yang akan menentukan status sosial dari sang pemilik rumah.

Pos Terkait:  Tari Jaipong Berasal Dari Daerah...

Hal ini bisa dilihat dari banyaknya pajangan kepala kerbau lengkap dengan tanduknya. Semakin banyak maka status sosial sang pemilik rumah tentunya lebih tinggi.

Nah, tidak hanya itu saja, warna cat dari rumah adat ini juga memiliki artiannya tersendiri. Untuk itulah semua rumah adat mereka terlihat hampir sama. Bahkan, rumah ini dibuat tanpa ada unsur besi sama sekali.

Tarian Adat

Sebagai salah satu suku bangsa di Indonesia yang masih menjunjung tinggi kebudayaan serta adat istiadatnya, Toraja memiliki banyak jenis tarian adat yang akan digelar di berbagai acara khusus.

Seperti tarian Manimbong, para penari pada jenis tarian ini semuanya ditarikan oleh pria. Mereka akan menggunakan salah satu pakaian adat yang dinamai maa’ dan menggunakan ikat kepala serta parang antik.

Tarian ma’gellu yang menjadi salah satu tarian populer di Toraja juga memiliki keunikannya tersendiri. Dimana sang penari berasal dari remaja-remaja wanita dengan menggunakan pakaian khas dengan balutan perhiasan antik.

Pakaian Adat

Tidak jauh berbeda dengan jenis tarian adat, Toraja juga memiliki beragam pakaian adat yang menarik dan unik untuk kita kupas. Bahkan, keunikan dari pakaian mereka ini sempat mencuri perhatian masyarakat luar.

Kali ini, kita akan membahas 3 dari beberapa pakaian adat Toraja yang terkenal, yakni Kandore, Sepa Tallung Buku dan Pokko. Pokko adalah salah satu baju tradisional yang didominasi dengan warna putih, kuning dan merah.

Kandore ini merupakan salah satu baju adat yang digunakan oleh para wanita. Baju ini dilengkapi dengan beragam perhiasan yang nantinya digunakan sebagai ikat pinggang, kalung, ikat kepala dan gelang.

Kemudian baju Sepa tallung buku yang akan digunakan oleh para pria. Baju ini tergolong unik dan menarik, sempat menjadi pembahasan banyak orang. Penggunaan baju ini dilengkapi dengan gayang, kandaure maupun lipa.

Upacara Adat

Karena masih kental dengan kepercayaan mistisnya, masyarakat Toraja menggelar banyak upacara adat dengan tujuan berbeda. Seperti untuk merayakan pernikahan maupun upacara yang digelar untuk pemakaman.

Seperti upacara Rompo Bobo Bonnang yang merupakan sebuah tradisi dimana pihak calon mempelai pria akan datang ke kediaman mempelai wanita untuk melakukan prosesi lamaran sederhana.

Upacara pernikahan lainnya juga dikenal dengan nama Rampo Karoeng. Ini adalah tradisi yang sama dengan Rompo Bobo Bonnang, hanya saja memiliki perbedaan tentang jenis jamuan yang disajikan.

Kemudian kita juga harus mengetahui upacara pernikahan Toraja yang dinyatakan sebagai upacara mewah. Upacara ini dikenal dengan nama Rompo Allo. Perayaan pernikahan ini digelar beberapa hari oleh bangsawan.

Pos Terkait:  Suku Bali - Sejarah, Kebudayaan & Adat Istiadat

Upacara adat Rambu Solo ini merupakan upacara yang digelar oleh masyarakat Toraja untuk melakukan prosesi pemakaman. Keunikan upacara adat yang satu ini adalah adanya acara kesenian dan menghias peti mati.

Kemudian juga ada upacara Ma’ Nene. Prosesi upacara tradisional ini dilakukan setiap 3 hingga 4 tahun sekali. Masyarakat akan datang ke pemakaman leluhur dan mengganti pakaian jasad tersebut.

Bahasa Adat

Masyarakat yang berdiam di tanah Toraja menggunakan bahasa Toraja untuk berkomunikasi satu sama lainnya. dialek yang paling sering digunakan adalah dialek Sa’dan Toraja.

Tentu saja, suku bangsa ini memiliki banyak jenis bahasa Toraja seperti Toraja Sa’dan, Mamasa, Toala’ Kalumpang dan Tae’ Talondo. Salah satu ciri khas dari bahasa mereka adalah gagasan tentang berduka cita atau kematian.

Sebab, bagi mereka kematian adalah suatu hal yang dianggap sangat sakral serta penting. Jadi, tidak mengehrankan jika bahasa mereka dikaitkan dengan ekspresi berduka cita dan rasa haru untuk mengenang kematian.

Makanan Khas

Kekayaan budaya dan tradisi tanah Toraja ini juga akan mengantarkan kita kepada banyaknya makanan khas yang bisa dinikmati jika menjejakkan kaki ke tanah Toraja.

Dangkot misalnya, dimana nama makanan ini adalah jenis masakan olahan bebek. Namun, dengan beragam penambahan bumbu-bumbu alami khas Toraja, maka daging bebek tersebut tidak lagi keras dan amis.

Pantollo Bale juga merupakan masakan khas yang menggunakan olahan ikan. Biasanya masyarakat setempat menggunakan ikan mas maupun ikan lele. Uniknya, ikan ini akan dipanggang namun memiliki kuah juga.

Kemudian kita juga akan disuguhkan dengan Pokon yang sejatinya mirip dengan lontong. Hanya saja, pokon ini menggunakan olahan santan kelapa dengan beras ketan.

Mata Pencaharian

Masyarakat di Toraja mata pencahariannya adalah petani dan peternak. Dahulunya, Toraja dikenal sebagai salah satu penghasil kopi yang berkualitas. Tentu saja, tanah yang subur banyak digunakan untuk bercocok tanam.

Kebanyakan penduduk mengembangkan padi di sawah maupun di ladang. Mereka juga menanam beragam jenis sayuran. Sedangkan untuk ternak, biasanya mereka akan memelihara kerbau maupun babi.

Dua jenis binatang ini sering digunakan untuk melengkapi serangkaian upacara adat yang mereka lakukan. Tentu saja mereka juga beternak ikan, itik maupun ayam.

Agama

Agama masyarakat tanah Toraja pada zaman dahulu adalah Aluk To Dolo, ini merupakan kepercayaan yang mempercayai 3 poin penting. Dimana pendahulu suku Toraja ini meyakini akan Puang Matua.

Puang Matua ini diibaratkan sebagai sang pencipta. Mereka juga mempercayai dewa-dewa yang diyakini memelihara kesejahteraan yakni deata-deata. Dan kepercayaan terakhir adalah Tomebali Puang yang berupa roh leluhur.

Pos Terkait:  Suku Anak Dalam - Sejarah, Kebudayaan & Adat Istiadat

Alat Musik

Karena masyarakat disini masih memegang teguh warisan leluhur dan kebudayaannya maka tidak mengherankan jika kita bisa menemukan beragam jenis alat musik tradisional.

Salah satunya adalah Pa’ Karombi, alat ini tergolong kecil dan bentuknya sangat sederhana. Hanya berbentuk dari bambu atau kayu kecil dengan adanya tali di bagian ujung untuk memainkannya.

Pa’pompang juga merupakan salah satu alat musik tradisional yang sering dimainkan oleh anak-anak ketika perayaan di Toraja sedang berlangsung. Kemudian Pa’pelle yang memiliki bentuk unik.

Pa’pelle ini merupakan alat musik yang terbuat dari daun enau yang besar dan kuat dengan perpaduan batang padi. Kedua bahan utama ini akan disambung dan dibuat menyerupai sebuah terompet besar.

Sistem Kekerabatan

Untuk sistem kekerabatan yang dimiliki oleh masyarakat Toraja dinamakan parapuan atau marapuan. Pengertian parapuan ini sendiri adalah jenis kekerabatan yang terdiri dari satu kakek moyang.

Kakek moyang yang dimaksud adalah sang pendiri dari rumah adat Tongkonan yang menjadi salah satu pusat untuk kehidupan sosial serta status kekerabatan dari penduduk di Toraja ini.

Marapuan ini digolongkan menjadi 3 hingga 5 generasi penerus. Uniknya, Toraja menggunakan sistem kekeluargaan bilateral. Sehingga, seseorang bisa saja terdaftar sebagai anggota dari beberapa buah tongkonan lainnya.

Senjata Tradisional

Untuk ulasan mengenai senjata tradisional suku Toraja maka kita akan emmbahas tentang 3 senjata yang paling terkenal yakni badik raja, badik luwu dan badik gencong.

Badik Raja sendiri merupakan salah satu senjata yang berasal dari kabupaten Bone dan digunakan sebagai salah satu senjata dengan nilai mistis yang tinggi. Sebab, konon pembuat senjata ini adalah makhluk halus.

Sedangkan badik gecong sendiri merupakan senjata mematikan yang bisa membuat para lawan langsung meninggal. Sebab, pada bilahnya sudah dilengkapi dengan racun. Untuk badik Luwu adalah milik kabupaten Luwu.

Setelah kamu mempelajari tentang beragam hal termasuk fakta sejarah, budaya, tradisi dan sistem kekerabatan suku Toraja pasti kamu sudah tidak heran mengapa suku ini tergolong unik dan menarik perhatian dunia.

Apalagi dengan filosofi kematian dan pemakaman mereka yang tentunya membuat kita semakin tertarik untuk meninjau lebih lanjut