close

Puisi Aku Karya Chairil Anwar

Puisi Aku Chairil Anwar – Chairil Anwar merupakan seorang sastrawan Indonesia yang terkenal dengan puisi-puisinya. Karya-karyanya banyak dipentaskan ulang oleh para seniman dan bahkan tercantum dalam buku teks Bahasa Indonesia. Salah satunya adalah puisi Aku karya Chairil Anwar.

Hampir setiap penduduk Indonesia yang pernah mengenyam pendidikan pasti pernah mendengar atau membaca puisi Aku karya Chairil Anwar yang terkenal ini. Puisi ini ditulis pada tahun 1943 dan dibacakan pertama kali di Pusat Kebudayaan Jakarta Bulan Juli 1943.

Sayangnya, puisi Aku karya Chairil Anwar dinilai radikal dan rawan terkena sensor oleh pemerintah Jepang yang kala itu menduduki Indonesia. Inilah yang membuat para seniman harus melakukan parafrase sebelum membawakan puisi Aku karya Chairil Anwar.

Lantas, seperti apa sih teks puisi Aku? Yuk, kita lihat puisi Aku dan maknanya!

Puisi Aku Karya Chairil Anwar

“Aku”

Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulan yang terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi!

Makna dan Pesan dalam Puisi Aku

Puisi aku chairil anwar

Sebagai seorang sastrawan di zaman penjajahan, beliau dikenal vokal dan sering melanggar aturan yang diberikan penjajah saat itu. Karyanya banyak mengalami penolakan dari penerbit karena tulisannya dianggap tidak mencerminkan visi Jepang untuk Asia Timur Raya.

Dalam puisi Aku karya Chairil Anwar, tergambar semangat dan keyakinan Chairil Anwar dalam membuat karya-karya puisinya. Lewat puisi Aku, Chairil Anwar ingin menyampaikan penolakannya terhadap para penjajah dan segala aturan yang mengekang rakyat Indonesia.

Melalui puisi Aku, dapat dilihat bahwa ada satu baris dimana beliau mengungkapkan kerelaannya menjadi berbeda dan dipandang sebagai seseorang yang bersalah (“Aku ini binatang jalang dari kumpulan yang terbuang”).

Pos Terkait:  10 Puisi Guruku Pahlawanku Paling Mengharukan

Meskipun begitu, beliau tetap mempertahankan kegigihannya dan tidak mempedulikan konsekuensi yang harus ditanggungnya walaupun nyawa menjadi taruhannya (“Biar peluru menembus kulitku, aku tetap meradang menerjang. Luka dan bisa kubawa berlari, berlari”)

Intinya, Chairil Anwar ingin menyampaikan amanat kegigihannya melawan penjajah. Beliau yakin bahwa akan tiba saatnya nanti karyanya tidak akan dipandang sebagai sesuatu yang salah.

Parafrase

Ternyata, karena puisi Aku rawan terkena sensor dari pemerintahan Jepang yang kala itu sedang menjajaki Indonesia, setiap seniman yang ingin membawakan puisi ini harus memparafrasekan terlebih dahulu.

Parafrase merupakan penyampaian puisi dalam bahasa yang sama dan gaya penulisan yang berbeda tanpa mengubah makna yang terkandung dalam puisi tersebut. Nah, seperti ini contoh parafrase puisi Aku ke dalam bentuk prosa:

Suatu saat aku pasti harus pergi. ketika saatnya aku untuk pergi itu tiba, aku tak ingin ada yang merayuku untuk tetap tinggal. Meskipun itu kau yang merayu, aku akan tetap pergi.

Aku tak membutuhkan tangisan dan air mata darimu untuk mengantar kepergianku, jadi jangan menangis.

Menurut rezim saat ini, aku ini merupakan binatang jalang. Aku menentang segala aturan dan belenggu yang dipaksakan kepada rakyat untuk dikenakan. Oleh sebab itu aku ini adalah bagian dari kumpulan kaum yang terbuang, dikucilkan. Karyaku tidak dianggap karena aku enggan tunduk pada keinginan penguasa.

Meskipun hujan peluru menyambut, aku akan tak akan pernah menyerah dan berhenti berjuang melalui tulisanku. Aku akan tetap berlari menerjang dengan kobaran semangat yang terus meradang.

Walau tubuhku penuh luka dan racun serta bisa, aku akan terus berlari. Meski aku harus mati, aku tak akan menghentikan lariku.

Pos Terkait:  22 Puisi Tentang Ibu Singkat, Padat dan Jelas

Sampai aku tak bisa merasakan apa pun lagi. Hilang sudah semua pedih dan perih yang kurasa.

Aku tidak peduli dengan semua yang sedang terjadi, tidak peduli dengan bagaimana orang lain memandang dan menilaiku. Meski tubuhku sudah tidak ada lagi di dunia ini, tapi namaku akan tetap hidup hingga seribu tahun lagi. Karyaku akan terus dikenang dan dikenal melebihi zamanku.

Puisi Aku juga pernah dicetak di Pemandangan, namun dengan pengubahan judul menjadi “Semangat” agar tidak terkena sensor dari pemerintah Jepang.

Baca juga: 10 Puisi Guruku Pahlawanku Paling Mengharukan

Rima dan Irama dalam Puisi Aku

Dalam puisi Aku karya Chairil Anwar, terdapat rima dan irama yang terlihat jelas. Contoh analisis rima dan irama adalah pada bait pertama terdapat akhiran yang sama, yaitu akhiran “u” di setiap akhir kalimat.

Bait “Aku ini binatang jalang; dari kumpulannya terbuang” juga menandakan adanya persamaan akhiran “ng”.

Di bait terakhir juga dapat dilihat, bahwa semua kata terakhir memiliki akhiran yang sama, yaitu akhiran “i”.

Selain itu, struktur kata-kata yang digunakan juga memiliki kesamaan, seperti contohnya “pedih” dan “perih”. Puisi ini juga menerapkan majas aliterasi pada baris “luka dan bisa kubawa berlari” dengan mengulang huruf b pada kata “bisa”, “bawa”, “berlari”.

Lihat juga: 22 Puisi Tentang Ibu Singkat, Padat dan Jelas

Biografi Singkat Chairil Anwar

Nah, kalo tadi sudah kita bahas salah satu puisinya yang paling terkenal, yaitu puisi Aku karya Chairil Anwar, sekarang kita bahas dulu orangnya. Siapa sih sebenarnya Chairil Anwar?

Chairil Anwar merupakan sastrawan sekaligus penyair legendaris yang dikenal oleh orang-orang sebagai “Si Binatang Jalang” karena karya Puisi “Aku” yang dibuatnya. Selain puisi “Aku”, beliau juga membuat 70 puisi asli lainnya, dan 10 puisi terjemahan.

Pos Terkait:  Puisi : Pengertian, Ciri-Ciri, Jenis dan Contoh

Lahir di Medan, 26 Juli 1922, Chairil Anwar merupakan anak tunggal dari mantan bupati Kabupaten Indragiri Riau bernama Toeloes dan ibunya yang bernama Saleha. Kedua orang tuanya berasal dari Provinsi Sumatera Barat.

Tidak banyak yang tahu, ternyata Chairil Anwar masih memiliki hubungan keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama.

Semasa sekolah dasar, beliau menyelesaikan pendidikannya di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah khusus orang pribumi waktu zaman penjajahan Belanda. Kemudian, beliau melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) namun keluar sebelum lulus SMP.

Pada usia 19 tahun, setelah orang tuanya bercerai, beliau ikut ibunya pindah ke Jakarta dan mulai mengenal dunia sastra. Meskipun pendidikannya tidak selesai, beliau menguasai Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, dan Bahasa Belanda.

Kegemarannya membaca karya-karya penulis internasional seperti Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron pun memengaruhi penulisan karya-karyanya.

Namanya mulai dikenal saat tulisan Chairil Anwar pertama kali muncul di “Majalah Nisan” pada tahun 1942. Semasa hidupnya, beliau berhasil menulis banyak puisi, beberapa yang terkenal adalah puisi Aku karya Chairil Anwar, Karawang-Bekasi, Diponegoro, dan lain-lain.

Sayangnya, beliau meninggal di Jakarta pada tanggal 28 April 1949 karena penyakit TBC yang dideritanya dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta.

Puisi Aku karya Chairil Anwar merupakan salah satu dari puluhan puisi asli yang dikarang oleh Chairil Anwar. Karya ini memiliki tema perjuangan melawan penjajah. Lewat gaya bahasanya, beliau mengungkapkan makna yang dalam tentang puisi ini.